Senin, 20 Juni 2011

Teknik Bimbingan dan Konseling

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia pada dasarnya memerlukan bimbingan sejak kecil untuk mempersiapkan masa dewasanya kelak supaya dapat diterima oleh lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat dengan bimbingan yang benar akan berjalan baik dan terarah. Begitu juga kepada para pelajar.
Seperti kita telah ketahui bahwa bimbingan merupakan proses tuntunan, arahan secara terencana dan terus menerus terhadap peserta didik untuk menuju kedewasan atau kematangan mampu memecahkan masalah-masalah/ problem yang dihadapi guna mencapai kesejahteraan hidupnya. Dengan melihat pengertian disamping bahwa tidak dapat kita kesampingkan bahwa kode etik juga penting bagi seorang pembimbing, sehingga konselor tidak akan berjalan seenaknya saja.
Oleh sebab itu maka penulis akan membahas mengenai tehnik-tehnik bimbingan serta kode etik konselor agar bisa menambah pengetahuan mendalam mengenai bimbingan dan konseling pada anak didik sehingga akan menjadi pencerahan tersendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Macam-macam tehnik bimbingan dan konseling
2. Pengertian dari macam-macam tehnik bimbingan dan konseling
3. Kode etik Konselor







BAB II
PEMBAHASAN

A. MACAM – MACAM TEHNIK BIMBINGAN DAN KONSELING BESERTA PENGERTIANNYA
Dalam bimbingan dan konseling ada jenis tehnik bimbingan, yaitu
1. Individual Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Individu)
Bimbingan konseling individu yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan klien mendapat layanan langsung tatap muka dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan yang sifatnya pribadi yang dideritannya
Dalam konseling ini hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya menunjukkan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien. Dan empati artinya berusaha menempatkann diri dalam situasi diri klien denagn segala masalah-masalah yang dihadapinya. Denagn sikap ini klien akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada konselor. Dan ini sangat membantu keberhasilan konseling.
 Tehnik Direktif dan Non-Direktif
a. Tehnik Direktif
Konseling direktif, yang karena proses dan dinamika pengentasan masalahnya mirip “ penyembuhan penyakit”, pernah juga disebut “konseling klinis” (clinical counseling). Pendekatan ini dipelopori oleh E.G. Williamson dan J.G. Darley yang berasumsi dasar bahwa klien tidak mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Karena itu kilen membutuhkan bantuan dari orang yaitu konselor.
Dengan demikian, inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak dilakukan oleh konselor. Klien bersifat menerima perlakuan dan keputusan yang dibuat oleh konselor. Dalam konseling direktif diperlukan data yang lengkap tentang klien untuk dipergunakan dalam usaha diagnosis.
Konseling direktif berlangsung menurut langkah-langkah umum sebagai berikut:
1) Analisis data tentang klien
2) Pensintesisan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien.
3) Diagnosis masalah
4) Prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya
5) Pemecahan masalah
6) Tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling
b. Tehnik Non-Direktif
Konseling direktif sering juga disebut “client contered terapi” pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rogers dari universitas Wisconsin di Amerika Serikat. Konseling non-direktif merupakan upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Melalui pendekatan ini klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaannya dan pikiran-pikirannya secara bebas.
Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Tetapi oleh karena suatu hambatan, potensi dan kemampuannya tidak dapat berkembang. Sehingga untuk mengembangkan dan mengfungsikan kembali kemampuannya itu klien memerlukan bantuan
Bertitik tolak dari anggapan dan pandangan tersebut, maka dalam konseling inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah diletakkan dipundak klien sendiri. Sedangkan kewajiban dan peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan kemampuan yang ada pada dasarnya ada pada klien itu berkembang secara optimal, dengan cara menciptakan hubungan konseling yang hangat dan permisif. Suasana seperti itu akan memungkinkan klien mampu memecahkan sendiri masalahnya.
Dalam suasana seperti itu konselor merupakan “agen pembangunan” yang mendorong terjadinya perubahan pada diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam proses perubahan tersebut. Salah satu prinsip yang penting dalam konselling non direktif adalah mengupayakan agar klien mencapai kematangannya, produktif, merdeka, dan dapat menyesuaikan diri dengan baik.

 Tehnik Selektif
Disadari bahwa setiap pendekatan atau teori diatas mengandung kekuatan dan kelemahan, namun semuanya telah telah menyambung secara positif kepada dunia bimbingan dan konseling, baik secara teoritis maupun praktis. Disadari pula bahwa dalam kenyataan praktek konseling bahwa tidak semua masalah dapat dientaskan secara baik hanya dengan satu pendekatan atau teori saja. Ada masalah yang lebih cocok diatasi dengan tehnik direktif dan ada pula yang lebih cocok dengan tehnik non-direktif atau dengan teori khusus tertentu.
Tehnik direktif dan tehinik non-direktif merupakan dua pendekatan yang amat berbeda. Masing-masing berdiri dalam dua kutub yang berlawanan, apabila dari kutub yang satu ditarik garis kekutub yang lain maka akan terbentuk garis kontinum, yaitu garis yang memungkinkan gerak pengembangan berbagai modifikasi antara dua arus teori tersebut.(prayitno, 1987).
Dengan perkataan lain bahwa bisa saja sebuah masalah dapat diselesaikan dengan kedua tehnik tersebut atau tidaklah dapat ditetapkan bahwa setiap masalah harus diatasi dengan salah satu tehnik saja. Tehnik mana yang cocok digunakan sangat ditentukan oleh beberapa factor, antara lain:
1) Sifat masalah yang dihadapi (misalnya tingkat kesulitan dan kekompleksannya)
2) Kemampuan klien dalam memainkan peranan dalam proses konseling
3) Kemampuan konselor sendiri, baik pengetahuan maupun ketrampilan dalam menggunakan masing-masing tehnik.

 Tehnik Behavioralisme
Manusia merupakan mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan mem-berikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar :
• Pembiasaan klasik,
• Pembiasaan operan
• Peniruan.
Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia cenderung akan mengambil sti-mulus yang menyenangkan dan menghin-darkan stimulus yang tidak menyenang-kan. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri-manya. Memahami kepribadian manusia : mempelajari dan memahami bagai-mana terbentuknya suatu tingkah laku
Karakteistik konseling behavioral :
-Berfokus pada tingkah laku yang tampak
-Cermat dan operasional dalam merumuskan tujuan konseling
-Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik
-Penilaian obyektif terhadap tujuan konseling
Asumsi tingkah laku bermasalah
- Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan
- Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah
- Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya
- Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
- Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar
Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk
proses konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.
Macam-macam tehnik behavioralistik:
- Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).
Teknik ini dimaksudkan untuk mem-bongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan meng-gantinya dengan sistem nilai yang positif.
Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan meng-internalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
- Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien
Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobser-vasi, dan menyesuaikan dirinya dan meng-internalisasikan norma-norma dalam sis-tem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

2. Group Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Kelompok)
Tehnik ini dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat individual yaitu dirasakan oleh individu sebagai anggota kelompok.
Tehnik ini membawa keuntungan pada diri murid, diantaranya;
- menghemat waktu dan tenaga
- menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan konselor, yang memungkinkan siswa lebih berkeinginan membicarakan perencaan masa depan atau masalah pribadi-social.
- Menyadarkan siswa bahwa kenyataan yang sama juga dihadapi oleh teman-temannya, sehingga mereka terdorong untuk berusaha mengahadapi kenyataan itu bersama-sama dan saling mendiskusikannya.
Beberapa bentuk khusus tehnik bimbingan kelompok:
1) Home room program
Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Dalam program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti dirumah. Dalam kesempatan ini diadakan Tanya jawab, merencanakan suatu kegiatan, menampung pendapat,dsb. Dalam contoh digambarkan guru merencanakan peninjauan keproyek jalan raya. Murid-murid diberikan kebebasan untuk berbicara, bertanya dan mengajukan usul.
2) Karyawisata (field trip)
Karyawisata atau field trip selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau metode mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu tehnik dalam bimbingan kelompok. Denagn berkaryawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu. Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa tanggungjawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan cita-cita yang ada.
Dalam contoh seorang anak dapat kesempatan untuk mengembangkan kesenangannya dan bakatnya dalam peninjauan keproyek jalan raya. Ia dapat menunjukkan kemampuannya kepada teman-temannya dan mengembalikan harga dirinya.
3) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akanmendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suaru masalah.
Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri. Masalah yang mungkin dapat diduskusikan antara lain:
- pembagian kerja dalam suatu kegiatan kelompok
- perencanaan suatu kegiatan
- masalah-masalah pekerjaan
- masalah belajar
- masalah penggunaan waktu senggang
- masalah persahabatan, keluarga dsb.
4) Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok merupakan tehnik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpatisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan. Juga dapat menembangkan tanggungjawab. Tehnik sosiometri dapat banyak menolong dalam pembentukan kelompok.
5) Keorganisasian
Keorganisasian baik dalam lingkungan pendidikan maupun dilingkungan masyarakat. Melalui organisasi ini banyak masalah individual maupun kelompok dapa diseleseikan. Dalam organisasi murid mendapat kesempatan untuk belajar mengenal berbagai aspek kehdupan social. Mengaktipkan murid dalam mengembangkan bakat kepemimpinan disamping memupuk rasa tanggungjawab dan harga diri.
6) Sosiodrama
Sosiodrama dipergunakan sebagai suatu tehnik didalam memecahkan masalah-masalah social dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah social.
Dalam kesempatan itu individu akan menghayati secara langsung situai masalah yang dihadapinya. Dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya.
7) Psikodrama
Jika sosiodrama merupakan tehnik memecahkan masalah social, maka psikodrama adalah tehnik untuk memecahkan masalah-masalah psychis yang dialami oleh individu. Dengan memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psyshis yang dialami individu. Kemudian murid-muri d diminta untuk memainkan dimuka kelas. Bagi murid yang mengalami ketegangan, permainan dalam peranan itu dapat mengurangi ketegangannya.
8) Remedial teaching
Remedial teaching atau oengajaran remedial yaitu bentuk pengajaran yang diberikan seorang murid untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya. Remedial ini mungkin berbentuk bermacam-macam seperti penambahan pelajaran, pengulangan kembali, latihan-latihan, penekanan aspek-aspek tertentu, tergantung dari jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dialami murid. Tehnik remedial ini dilakukan setelah diadakan diagnose terhadap kesulitan yang dialami murid.
B. KODE ETIK PADA BIMBINGAN KONSELING
Kode etik yaitu ketentuan atau peraturan yang harus ditaati oleh siapa saja yang berkecimpung dalam bidang bimbingan dan penyuluhan demi untuk kebaikan. Denagn adanya kode etik dalam bimbingan dan penyuluhan dimaksudkan agar bimbingan dan penyuluhan tetap dalam keadaan baik dan justru diharapkan semakin baik.
Kode etik ini mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan. Dibawah ini akan beberapa kode etik dalam bimbingan dan konselling:
1. pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan penyuluhan.
2. pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri weenang serta tanggung jaawabnya.
3. oleh karena pekerjaan pembimbing langsung dengan kehidupan pribadi orang, maka seorang pembimbing harus:
a. dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
b. Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
c. Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien.
4. pembimbing tidak diperkenankan:
a. menggunakan tenaga-tenaga ahli yang tidak terdidik dan terlatih
b. menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
c. Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien
d. Mengalihkan klien kepada konselor lain, tanpa persetujuan klien.
5. meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain diluar kemampuan atau diluar keahliannya
6. pemmbimbing haruslah menyadari akan tanggungjawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
 Macam – Macam Tehnik Bimbingan Dan Konseling Beserta Pengertiannya
• Individual Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Individu)
1.Tehnik Direktif dan Non-Direktif
2.Tehnik Selektif
3.Tehnik Behavioralisme

• Group Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Kelompok)
o Home room program
o Karyawisata (field trip)
o Diskusi kelompok
o Kegiatan kelompok
o Keorganisasian
o Sosiodrama
o Psikodrama
o Remedial teaching
 KODE ETIK PADA BIMBINGAN KONSELING
• konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan penyuluhan.
• pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil sebaik-baiknya
• seorang pembimbing harus:
-dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
-Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
-Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien.
• pembimbing tidak diperkenankan:
-menggunakan tenaga-tenaga ahli yang tidak terdidik dan terlatih
-menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
-Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien
-Mengalihkan klien kepada konselor lain, tanpa persetujuan klien
• pemmbimbing haruslah menyadari akan tanggungjawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar